Mbah Sarno & Hujan

Siang ini sangat terik, panas matahari dirasa clekat-clekit saat menyetubuhi kulit Mbah Sarno. Meski demikian, pria berumur 60 tahun itu tetap semangat mengayunkan cangkulnya. Mencangkuli tanah di sisi-sisi dalam pematang, lalu  menambalkan tanah yang dicangkulnya di atas pematang. Orang-orang desa sering menyebutnya nembok galeng atau namping galeng.

“Pakne, aku hari ini cuma masak nasi, tapi ndak punya lauk. Terus nanti Pakne ke sawah bawa bekal apa? Masa cuma nasi thok?” tanya Mbah Lami, istri Mbah Sarno pagi tadi sebelum dia berangkat macul ke sawah.

“Mbok ya dikulupne daun singkong sama gorengan tempe ta Bune! Masa disuruh makan nasi putih nyel?” jawab Mbah Sarno, sambil mempersiapkan cangkulnya.

“Pohon singkong belakang rumah kering lho Pakne, tinggal pohonnya aja, udah ndak ada daunnya, lama ndak ada hujan.” Sahut Mbah Lami sambil menata bekal Mbah Sarno.

“Ya wis belikan krupuk saja!”

Berbekal cangkul dan serantang nasi beserta krupuk untuk lakunya, Mbah Sarno mulai melangkah menyusuri pematang. Embun pagi mulai tersingkap oleh keangkuhan mentari pagi. Dan burung-burung belibis nampak anggun beterbangan rendah di atas lahan persawahan yang siap digarap.

Sesampai di sawahnya yang tak begitu luas, Mbah Sarno menyimpan bekalnya di gubug. Lalu memulai pekerjaannya, merapikan pematang.

“Kok panas sekali ya siang ini, sebaiknya aku istirahat dulu.” gumam Mbah Sarno lalu ia pun melangkah menuju gubug.

Tamping Mbah?” sebuah sapaan dari Kang Wadi kepada Mbah Sarno.

“Iya iki Di, tanahnya keras. Kurang air, jadinya ndak selesai-selesai dari tadi pagi.” jawab Mbah Sarno yang berhenti sejenak lalu berjalan lagi menelusuri pematang.

“Waah sama Mbah, lahanku juga kurang air. Kayaknya saluran irigasi sudah ndak bisa menuhi kebutuhan air di sawah kita. Kalau seperti ini, kita harus pakai pompa diesel, Mbah.” Ucap Kang Wadi sambil mengikuti langkah Mbah Sarno.

“Yang punya pompa diesel di desa kita kan ndak banyak Di, lagian kita harus gantian makainya, belum lagi buat beli solarnya yang juga mahal.” keluh Mbah Sarno.

“Iya juga sih Mbah. Tapi ya gimana lagi, wong sudah lama sekali wilayah kita ndak diguyur hujan. Padahal kita butuh banyak air kalau sedang nggarap sawah seperti saat sekarang ini!” timpal Kang Wadi.

“Begitulah Di, sepertinya cuaca tak bersahabat lagi sama kita.” ucap Mbah Sarno sambil menempatkan posisinya di gubug, lalu diikuti oleh Kang Wadi.

“Iya Mbah, yang musim kemarin saja aku ndak ngunduh (manen) kedelai yang aku tanam. Waktu baru sebar benih, hujan deras. Benihnya banyak yang hilang kebawa banjir. Waktu musim panen, biji kedelainya banyak yang busuk.”

“Makanya Di, pasrah saja sama yang punya hidup. Jika Gusti masih berikan kita hidup, Gusti juga akan sediakan kita makan.” ujar Mbah Sarno, sambil membuka bekal makannya.

Nggih Mbah!”

“Lha mana makananmu, apa kamu tadi ndak bawa nasi ta?” tanya Mbah Sarno.

Mboten (tidak) Mbah, lha bojoku (istriku) ndak masak.”

“Ya wis, sini, makan bareng saja sama aku. Tapi lauknya cuma krupuk.”

Mboten Mbah, panjenengan dhahar piyambak mawon. (Tidak Mbah, Mbah makan sendiri saja)”

“Ndak mau karena cuma lauk krupuk ta Di?” tanya Mbah Sarno bercanda.

“Ndak begitu Mbah…”

“Wis, ayo dimakan bareng saja!”

Karena tak enak pada Mbah Sarno, akhirnya Kang Wadi menerima tawaran Mbah Sarno untuk ikut makan dengannya. Dan langit nan cerah tanpa semburat mendung itu menjadi saksi, bahwa keterbatasan dan kesederhanaan tak pernah menutup rasa untuk berbagi.

Usai menyantap menu makan siang, mereka kembali bekerja, bekerja dalam diam, tenggelam dalam dunia mereka masing-masing. Sinar panas sang penguasa siang tak mampu menyurutkan semangat mereka untuk terus mengayunkan cangkulnya. Hingga terik itu lelah, lalu menyerah dalam sebuah rotasi waktu.

Sumur-sumur banyak yang kering, orang-orang harus berjalan beratus-ratus meter ke sendang (sumur desa) untuk mengambil air. Untuk masak, untuk minum, untuk mandi, untuk mencuci. Jika ketika ada air maka ada kehidupan, bayangkan jika ada kehidupan namun tak ada air. Dan itulah yang terjadi di wilayah yang ditempati Mbah Sarno.

Mbah Sarno hanya tinggal berdua dengan Mbah Lami, mereka menikmati sisa hidupnya hanya berdua. Kedua anaknya kini sudah berkeluarga dan hidup di kota. Hanya sesekali saja mereka menengok orang tuanya. Itu pun jika ada libur kerja yang cukup panjang. Bisa dipastikan, mereka kini makin kerepotan dengan ketiadaan air. Mereka sudah terlampau tua untuk mengambil air di sumur desa.

Hujan. Ya hanya hujan yang akan bisa menolongnya, menolong tetangganya, menolong sawahnya yang terancam kekeringan, dan menolong banyak orang. Ya, hanya hujan.

Jika banyak orang suka mengutuk kehadiran hujan karena dianggap perusak suasana, maka kini sebagian lainnya justru amat menanti kedatangannya. Jika banyak orang mengaduh karena tak bisa bebas bepergian karena hujan, maka sebagian kecil lainnya berharap hujan menghapus dahaga kerinduan akan hadirnya. Ya, hujan. Sebuah nikmat dari Gusti yang bermacam nilai berbeda dia dapatkan dari setiap orang.

“Terus sawah kita gimana Pakne?” tanya Mbah Lami pada Mbah Sarno senja itu.

“Lha piye Bune, percuma juga sewa pompa diesel. Sawah kita kan letaknya di bawah, sampai sawah kita airnya sudah habis. Lha sudah meresap ke sawah tetangga.”

“Kalau nanti sawah kita sampai kekeringan, terus kita makan apa? Lha sawah itu satu-satunya penghasilan kita.” keluh Mbah Lami.

“Sudahlah Bune, jangan khawatirkan masalah itu. Berdoa saja pada Gusti, mudah-mudahan Gusti segera menurunkan rahmatnya. Ya, semoga Gusti segera menurunkan hujan untuk kita.” Mbah Sarno mencoba menenangkan istrinya.

Langit senja memantulkan cahaya jingga, nampak indah. Dan tak akan satu pun yang mampu mengelak keindahan lukisan Gusti sore ini. Termasuk Mbah Sarno.

Gusti, tidak ada yang mampu mengalahkan kuasa-Mu. Langit Kau lukis demikian indahnya. Mega dengan beribu warna jingga menjadi pemandangan agung untuk bumi tanpa jeda. Hingga langit berubah warna.

“Duh Gusti, kami mohon kemuharan-Mu, untuk turunkan hujan-Mu untuk kami. Kami tahu, tak ada suatu hal yang seharusnya kami keluhkan atas keputusan-Mu. Tapi Gusti, kami sungguh butuhkan pertolongan-Mu, kemurahan-Mu.”

“Gusti, mohon ampuni dosa kami yang kerap mengumpat saat hujan kau turunkan sedang kami masih di ladang. Ampuni dosa kami saat menyambut hujan dengan sumpah serapah, karena gabah yang kami jemur belumlah kering. Gusti, ampuni dosa kami yang terus berkeluh kesah saat hujan, karena airnya membanjiri sawah kami. Gusti, Gusti, Gusti, rasanya saya malu meminta hujan kepada-Mu, sedang sering kali hati ini jengkel saat hujan yang kau turunkan membuatku repot karena harus membenahi genteng yang bolong. Duh Gusti, ampunilah dosaku.” lantunan doa panjang pun selalu tersemat dalam setiap malam Mbah Sarno.

Usai melipat sajadahnya, Mbah Sarno lantas keluar rumah. Sejenak menyaksikan keelokan rembulan yang selalu tersenyum dalam wajah pucatnya. Juga kedipan bintang-bintang yang seolah mengajaknya menari bersama angin malam.

Ya, Mbah Sarno yang sudah sepuh itu tak pernah melewati indahnya langit disepertiga malam. Baginya, saat-saat seperti itulah dia merasa benar-benar sedang diperhatikan Gusti, Tuhannya.

Pagi ini tak seperti biasa, jarum jam sudah menunjuk ke angka 6. Namun masih saja langit tampak gelap. Burung-burung bernyanyi dan para belibis itu bersorak sorai dengan kepakan Sayapnya. Aroma tanah basah mulai tercium dari kejauhan. Yah pagi ini akan turun hujan.

Mbah Sarno segera keluar rumah, hanya berdiri di halaman rumahnya, lalu menengadahkan wajahnya ke langit. Matanya terpejam, menikmati aroma tanah yang dia rindukan. Berharap tetesan air hujan segera menciumi wajahnya.

Dan benar saja, di menit ke 5 jam 6 pagi, hujan, yang diharapkannya pun datang. Orang-orang yang turut menunggu hujan serentak keluar rumah. Menari di bawah hujan pagi. Yang jika dulu setiap ada hujan pagi mereka mengumpat dan bersumpah serapah lantaran tak mampu mengais rejeki, kini mereka bersamaan mengucapan syukur tiada henti.

“Gusti, terima kasih!” bisik Mbah Sarno.

Jangan pernah jadikan hujan sebagai alasan untuk sebuah umpatan. Karenanyalah, Tuhan menguji seberapa besar rasa sabar dan rasa syukur yang kita miliki.

 

*cerpen ini diikutsertakan dalam proyek @nulisbuku dengan tema #hujan

 

2 thoughts on “Mbah Sarno & Hujan

  1. rinatrilestari 20 March 2011 at 11:21 AM Reply

    Duh Gusti, kami mohon kemuharan-Mu

    Bune izzah, mbok dibenakno iku. nice zah, suip!

    • Izzah 20 March 2011 at 11:58 AM Reply

      ket mau gak isa ngedit iki. mbencekno

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: