Hikayat si Onthel Mini

“Jadi acara untuk ultah Canting berikutnya yaitu ngGowes ke Kota Gede dengan tujuan Makam Raja-raja Mataram, sekilas saja siapa yang mau ikut?” Tanya Mas Gugun dalam acara belah tumpeng ultah Canting di GreenzCafe kala itu.

Tanpa mikir kalau gak bawa dolphin ungu dari Magetan, tanpa tahu ada pinjeman sepeda apa enggak, aku angkat tangan saja tanda ikutan. Yang pasti ada beberapa temen yang juga ikutan angkat tangan salah duanya Babeh Helmi dan Pak Daniel Suharta.

Keesokan harinya, tepat jam 6 pagi Mas Yula aka Kouncoeng aka Pak Kepsek menjemputku di kosnya Mba Sasha. Stt… Mba Sashanya masih tidur waktu itu, sampe gak bisa bedain aku udah mandi apa belum #eh apa akunya yg justru gak ada bedanya udah mandi apa belum ya?!

Langsung kita meluncur ke daerah Wirosaban, tempat dimana ada sepeda yang disewakan. Atau tepatnya ke tempat Mas Riski temannya Mas Gugun. Di tempatnya Mas Riski ada beberapa sepeda yang memang khusus untuk disewakan.

“hmm, rumayan lama sekitar 4 tahunan” kata Mas Riski sewaktu kutanya sudahkah lama mengurusi bisnis penyewaan sepeda ini. Ada beberapa macam sepeda yang disewakan, ada onthel tua, federal, dan sepeda yang lagi booming akhir-akhir ini. Iya sepeda fixie.

Sepintas, aku melihat sepeda onthel yang cantik sekali dan aku langsung suka sejak pandangan pertama. Aku menyebutnya sepeda onthel mini, karena memang ukuran onthel ini mini cocok dengan bodyku yang juga mini.😀

“Waah cantiknya sepeda itu, aku mau pake yang itu Mas!” teriakku spontan.

“Tapi yang itu belum siap, belum layak untuk disewakan!” kata Mas Riski.

“waah kenapa Mas?” tanyaku rada kecewa.

“Masalahnya cuma diremnya sih, ngeremnya mesti ditarik ke atas kaya gini” Mas Riski memberitahu gimana cara make remnya.

“Oh, masalahnya cuma di remnya saja ya Mas?! Gak apa deh aku pake yang ini.” Kataku PD.

“Ya sudah kalau gak ada masalah, pake saja.”

Aku kegirangan, sampai2 minta di fotoin sama Mas Gugun waktu nyoba tuh sepeda. Aku sudah riwa riwi sibuk nggladi tuh onthel mini, sedang Mas Gugun, Mas Yula dan Mas Sigit masih anteng-anteng saja nangkring di sepeda masing-masing. Sambil nunggu Mas Aziz Safa yang juga mau nyewa sepeda.

Oh iya, Mas Gugun pake onthel tua, Mas Yula pake sepeda fixie, Mas Sigit pake sepeda kolaborasi antara onthel tua dan stang kaya huruf Y ada boncengannya untuk boncengin Inez. Terus Mas Safa pake sepeda federal yang cocok dengan perutnya yang hamil 7 bulan.

Kami berempat (Sigit jemput Inez) menunggu rombongan yang start dari titik 0 Jogja, di halte, mereka itu antara lain Mba Mesha, Pak Daniel, Babeh Helmi, Mas Muhayat, Mas Indra, Mas Radit, Mas Tosse.

Setelah kita semua berkumpul, perjalanan menuju kota gede langsung dimulai. Disepanjang perjalanan kami saling berbagi cerita tentang sisa-sisa keceriaan semalam. Sebelum keceriaan itu berubah di sebuah jalan yang menurun.

Babeh helmi berada di samping kananku sewaktu itu, dan aku bilang pada Babeh,”Beh, sepedaku remnya gak bisa, nanti aku pegangan tangan bab…… huaaaaa beeeeeh toloooong remku gak bisa!!! Beeeeh rem beeeeeehhh……..!!!” si onthel mini melaju cepat sedang di depan sana sedang ada bis yang sedang parker menurunkan penumpangnya.

“Babeeeeeeeeeehh……. Reeeeeeeeemmmm!!!” aku teriak-teriak panik. –> slow motion

“Gimana aku bisa ngerem tanganku kamu pegangin!!!!”

“huaaaaa tolooongggg!!!” aku meluncur pasrah. Dalam pikiranku waktu itu adalah jika pun nanti aku menabrak bis yang ada di depan sana. Semoga aku tidak masuk penjara. Masih –> slow motion

Di sela-sela pikiranku yang sibuk, aku mendengar sayup2 suara orang tertawa, dan sepertinya yang tertawa itu banyak sekali. Dan ada juga (seperti suara malaikat) yang juga berteriak “belok kiri Zah belok kiri Zaaah!!!” dan saat kulirik, sebelah kiri hanya ada trotoar yang rada tinggi. “Ah ngacau” pikirku.

Tapi inilah bukti bahwa Tuhan masih menyayangi hambanya yang malang, kurang lebih 2 meter dari bis itu berhenti, ada sebuah toko. Dan di parkiran toko itulah akhirnya ku banting setir onthel mini dan berputar-putarlah kami di sana sampai 4 kali putaran tanpa kugenjot sekalipun.

NYARIS TRAGIS TAPI MALAH KETAWA GULING-GULING

 

Jalan nanjak, gak usah ngoyo dituntun wae! PakDanielSuharta.doc

Tetap tertawa, karena memang menyenangkan BabehHelmi.doc

 

Berpose bersama PakDanielSuharta.doc

“Itu sepeda khusus buat kamu saja Zah, kalo pas ke Jogja. Makanya kamu aja yang kasi nama ya!” kata Mas Gugun.

Dan setelah terlewat beberapa hari dari peristiwa bersejarah itu, akhirnya kutemukan nama yang manis dan cocok untuk sebuah onthel yang tangguh, pemberani dan cantik.

Namanya adalah REMZI

Hikayat si Remzi

(Bukan) RemZialan

 

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: