Internet dan Bocah-bocah Itu

“Mba, facebookmu namanya apa? Aku add ya mba!”

Sebuah permintaan pertemanan yang sangat tidak asing (mungkin) di telinga kita. Hal tersebut wajar-wajar saja jika yang meminta itu adalah teman kita, atau seseorang yang kita kenal. Tapi ini sangat ganjil ketika yang meminta alamat facebook itu adalah seorang anak kecil dan bala kurawanya.

“Emang kamu sudah punya pesbuk?” tanyaku spontan.

“Udah donk mba, biar kecil-kecil begini aku sama temen-temen udah pinter pesbukan.” Kata si Arif, bocah yang masih duduk di bangku SD kelas 5.

“Oh ya, biasanya klo buka pesbuk main apa saja?” tanyaku lagi.

“Main ninja saga, cari teman terus balas-balasan komentar sama teman-teman. Asyik lo mba punya pesbuk itu.” Katanya lagi (masih Arif).

“Hahaha,” aku hanya tertawa mendengar celotehnya yang lugu dan lucu.

“Ayo to mba, nama pesbukmu apa? Biar aku add….” Pintanya lagi.

“Buat apa sih kok pengen nge add pesbukku?” tanyaku penasaran.

“Temen-temenku banyak yang ngepen (mungkin maksudnya nge fans -> jadi GR) sama mbak’e, hehehe” jawabnya lagi.

“temenmu apa kamu?” tanyaku menggoda.

“Kabeeeh” jawaban yang aku tak mengerti maksudnya. Hahahaha

Tak dipungkiri, tehnologi khususnya internet sekarang ini sudah sangat menjamur dimana-mana. Begitu pula di daerahku, sebuah daerah yang bisa dibilang masih sangat ndeso. Masuk wilayah kabupaten Magetan, tapi merupakan perbatasan dengan Kabupaten Ngawi di sebelah utara dan Kabupaten Madiun di sebelah  Timur.

Namun demikian, tak sedikit bocah-bocah yang sudah pinter internetan, khususnya facebook an dan main game online. Sebenarnya ini sangat disayangkan, mereka ke warnet hanya untuk facebook dan game online. Padahal banyak sekali hal-hal baru yang bisa mereka dapatkan jika mau browsing ke situs-situs pendidikan atau pun pengetahuan lainnya.

Gak usah ribet, misalnya saja mereka mencari istilah-istilah ataupun bab-bab tertentu yang mereka masih tak mengerti jika diajarkan oleh gurunya di sekolah. Atau mencari jawaban atas PR-PR mereka yang memang kadang sulit untuk seukurannya. Atau hanya membaca-baca, mencari-cari ilmu yang bertebaran di dunia maya ini. Membaca contohnya. Ah andai saja mereka suka membaca.

Acap kali mereka berkata, mata lelah, bikin pusing, gak suka, jika di suruh untuk membaca. Padahal hanya tulisan kecil, maksudnya hanya sedikit dan itu pun tak perlu mengernyitkan dahi untuk memahaminya. Mengapa? Mengapa? Apa karena kebiasaan? Apa karena memang tidak dibiasakan? Atau bagaimana? Andai aku tahu jawabannya.😦

Hei, kembali lagi ke Arif dan teman-temannya, ada hal menarik lainnya yang ingin saya ceritakan. Mereka (kira-kira ada 5 bocah) tak pernah absen datang ke sekawan.net. Kalau pas hari sekolah, maka mereka datang setelah usai sekolah. Jika hari libur, mereka datang bahkan lebih pagi dariku, secara aku yang bawa kunci warnetnya.

Setiap kali bermain mereka mengeluarkan minimal 3 ribu rupiah (tarif per jamnya segitu). Tapi mereka sering kali datang lagi setelah beberapa menit meninggalkan warnet. Malah, akhir-akhir ini mereka sering login lewat paket (login paket 2 jam 5 ribu). Dan lagi-lagi mereka tak hanya datang sekali dalam sehari, lebih-lebih waktu hari libur.

Sering kali saya heran, dari mana uang yang mereka keluarkan untuk berinternetan? Padahal, bisa dibilang orang-orang di daerahku (tidak semua) bukanlah orang-orang yang mampu (secara ekonomi). Kebanyakan dari orang tua mereka hanya mengandalkan hasil sawah, dan untuk saat ini belum datang musim panen, malah bisa dibilang lagi musim paceklik. Mungkinkah mereka menggunakan uang sakunya? Apa iya, uang sakunya setiap hari 5 ribu rupiah? Sesuatu yang diluar nalarku jika seorang anak SD (khususnya di daerahku) mendapatkan saku 5 ribu/hari. Secara, untuk belanja saja tak sedikit yang harus ngutang sana-sini.

Akhirnya, aku coba tanyakan sama mereka.

“Eh, Rif kamu kan tiap hari ngenet, nah itu duit yang kamu pake dari mana?” tanyaku hati-hati

“Ada aja” jawabnya ngasal, khas anak kecil yang asal.

“Gitu yak kalo ditanyain, tiap hari uang sakumu banyak ya? Nyampe 5 ribu?” tanyaku lagi, kali ini agak nyolot.

“Enggaklah mba, paling cuma seribu.” jawabnya masih sambil main game.

:LoL:

Tiap hari uang sakunya cuma seribu, tapi setiap hari juga ngenet minimal 3 ribu? Masuk akal gak sih? Mereka dapet duit dari mana?

Jangan katakana padaku untuk tidak mengurusi hal ini, karena mungkin menurut anda ini jelas-jelas menguntungkan saya (dan itu memang betul). Dan mungkin aku akan menjawab “Oh tidak bisa…..” (bayangin klo Sule yang ngomong) aku punya adik, dan banyak adik asuh di Madin sana. Bayangkan jika mereka melakukan hal yang sama sedangkan seakan-akan orang tua mereka hampir tercekik dengan harga bahan-bahan pokok yang memang mencekik.

”Kalo tiap hari cuma dapet saku seribu kok bisa ngenet sampe 10 ribu (dia login paket 2x hari ini)?”

Dan anda tau apa jawaban Arif dan temennya saat aku bilang gitu?

“Uang sakuku pas lebaran kemarin masih sejuta Mba,.”

 

Tagged:

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: