Parjo dan Setu

Menelusuri jalanan nan becek sisa hujan siang tadi, Parjo menggowes sepedanya perlahan. Mencari celah-celah jalan yang tidak tergenang air dan lumpur. Celana panjangnya dia tarik hingga setengah betisnya. Aroma angin malam mulai tercium hidungnya kala dia melewati jalan setapak dengan kanan kiri berupa lahan persawahan. Padi yang mulai menguning yang ia lihat pagi tadi tak nampak keindahannya lagi. Hanya suara gemerasak karena daun-daunnya saling bergesek tertiup angin. Angin yang dingin hingga menusuk tulang pipinya.

“Sebentar lagi kita akan segera memasuki area Masjid di perkampungan, sabarlah sedikit” kata Parjo kepada sepedanya. Sebuah Sepeda tua dan itu adalah satu-satunya peninggalan kakeknya yang masih tersisa.

Sedang sepeda yang dia tunggangi itu hanya berdecit dan berjalan malas. Seperti seorang yang tak pernah mandi 7 hari dan juga tak makan 7 malam. Memang, sepeda tua yang Parjo namai Setu itu jarang sekali dicuci. Bahkan dilap pun tidak, bisa dipastikan paras Setu tak segagah dulu lagi. Tak sama seperti saat Kakek Sumo yang memakainya. Setu diperlalukan bak sahabat sejati yang menemaninya kemana langkahnya ingin mencari harap.

Parjo lebih menyukai pergi jika ditebengi temannya dengan menunggangi motor Mio kebanggaan temannya. Atau Honda Revo milik keponakannya. Padahal, Setulah yang senantiasa ada jika minggu pagi Parjo diutus ibunya untuk mengantar ke pasar beli terasi. Atau ngirim ke sawah jika musim tanam dan panen tiba. Setu juga selalu ada dan siap menemaninya jika tiba-tiba dia ingin membeli mie ayam di ujung gang sana. Setu yang setia.

“Le, kakek tidak bisa memberikan apa-apa pada kamu. Kakek Cuma punya sepeda tua itu. Dia sudah bertahun-tahun menemani Kakek. Dan Kakek ingin mewariskannya padamu. Dia pasti akan menjadi sahabatmu yang baik. Jaga dan rawatlah dia” pesan Kakek Sumo pada Parjo sehari sebelum kematiannya.

Kala itu Parjo hanya mengangguk hikmat dan mengelap air mata yang mulai menetes di pipi tirusnya. Dalam hati dia berjanji untuk merawat dan menyayangi Setu seperti dia menyayangi kakek Sumo.

Masjid Ar-Rohman sudah nampak diujung jalan yang sedang dilewati Parjo sekarang. Suara Adzan Magrib juga sudah berkumandang dengan nyaringnya. Parjo semakin kuat menggenjot Setu tanpa dia dengar rintihannya.

Braaakkk….

Sebuah batu sebesar kepala balita tertabrak oleh Parjo dan Setu. Parjo terpelanting di area persawahan dan Setu gontai lalu menabrak pagar Masjid. Na as, badan Setu seketika patah di beberapa bagian. Dan tak mungkin dia mampu berjalan meski hanya setapak.

 

Tagged: ,

4 thoughts on “Parjo dan Setu

  1. bintangfajarramadhan 27 January 2011 at 12:06 PM Reply

    bagus..lebih bagus kalau diselesaikan endingnya..

    • Izzah 27 January 2011 at 12:39 PM Reply

      ending menggantung, biar pembaca yang menyelesaikan.

      terima kasih sudah mampir,🙂

  2. Gugun 7 26 January 2011 at 4:12 PM Reply

    mau tak temeni gak

    • Izzah 27 January 2011 at 10:27 AM Reply

      temeni kemana Mas Gun?
      nonton 1 litre of tears? haha

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: