Jogja & Cerita

Sebuah perjalanan baru bersama Madiun Jaya (8 Januari 2011, 13:00) inilah yang ternyata membuatku deg-degan menjelang keberangkatan ke Jogja. Sebuah kereta berwarna orange putih, nampak anggun namun perkasa. Di gerbong pertama aku memilih duduk, menikmati suasana perjalanan tanpa kata.

Jogja, bermacam warna ada di sana, dan aku mengunjunginya (lagi) dengan membawa sekarung cerita. Berawal dari sepeda dan janjian tanpa rencana yang membawaku ke sana. (Asli susah banget mau nulis apa, saking banyaknya yang mau ditulis). Ok, turun dari kereta, Mba Rina aka Ranger Pink yang sudah sampai duluan di Jogja menjemputku bersama Pace (Agung Poku aka satria bergitar). Kita duduk lesehan di sudut ruangan di dalam stasiun Tugu. Menunggu Mas Muhayat yang masih terjebak hujan. Sambil ngobrol dan bercerita yang diselingi canda. Kami hanya ngobrol berdua saja, karena Pace hanya menjadi pengamat saja, seperti biasa.

Hujan mulai reda, dan bertemulah aku dengan Mas Muhayat aka Ust. Mumu untuk pertama kalinya. Memang sedikit berbeda dengan apa yang selama ini terbayang (emg pernah mBayangin?). Hahay ternyata dia tak mirip dengan Mas Cucu Cahyana yang sebelumnya sudah kutemui.

Beranjak dari Stasiun pasukan ranger pun pergi ke TBY (Taman Budaya Yogyakarta) yang kebetulan sore itu ada acara penutupan nyalakan tradisimu (klo gak salah, yang pasti ini acaranya mas Gugun yang disana ada sutradara film Garuda di dadaku dan seorang seniman kondang). Kami ikut bergabung sebentar lalu dilanjutkan diskusi di luar (diskusi lo ya, bukan ngobrol). Oh iya, disana aku bertemu juga dengan Bu Aziz (istrinya Mas Aziz Safa namanya Umi) orangnya cantik, baik dan ramah. Sanang bertemu dengannya.

Ok, acara selesai dan kami pun mendapatkan sebuah kaset DVD. Covernya bertuliskan “nyalakan seni tradisimu” ah sungguh Mas Gugun baik hati. Karena perut sudah berteriak-teriak, usai shaloat Magrib kita langsung menuju Wijilan. Banyak angkringan disana, namun kami hanya mampir ke satu angkringan. (ya iyalah, masa semua angkringan mau diampiri?).

Aziz Ngashim datang menyusul diikuti oleh Mas Gugun, lalu Mas Yuladi Zula dan terakhir Mas Hendra Arkan. Suasana begitu cair. Ngobrol ngalor ngidul, tertawa terbahak jika bahasa suroboyoane Mba Rina keluar. Haha suasana yang wajib diulang (kecuali rasa capek dan ngantuknya).

Jam 10 malem kita berpisah, pulang. Aku dan mba Rina diantar oleh Ngashim dan Mas Muhay ke kost mba Sasha, eh ternyata Pace juga ikut nganter. Haha kirain Pace langsung pulang, ternyata dia masih belum ingin berpisah denganku. Hahaha pisss Pacee!!

Malam sebelum tidur, di atas 3 kasur, 3 wanita bercuap-cuap sampai berbusa lalu tertidur. Hingga pagi, sesaat sebelum sebuah kisah baru terlukis di langit Jogja.

 

Bersambung…

Photo2 di bagian ke 2 @_@

Tagged: ,

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: