Ongkos Bus

Setelah puas main-main ke terminalnya temen, aku jadi inget peristiwa beberapa tahun silam. Yah peristiwa yang berhubungan dengan bus cepat aka Sumber Kencono.

Berasal dari sebuah kampung mewah tepatnya dekat kawasan pemandian (pemandian kebo) kami tinggal. Kenapa kami? karena aku memang bersama temanku saat itu. Sebuah desa yang jauh dari peradapan modern. Tidak pernah dilewati Bus dan angkutan umum. Bahkan becak pun tak sudi melewatinya. Selain jalan yang rusak banyaknya pemilik sepeda motor maupun sepeda ontel menjadi salah satu penyebabnya. (Katanya jauh dari peradapan modern? => maksudnya gak dilewati bus :p

Melihat bus lewat merupakan sesuatu yang wah kala itu. Apalagi kalau liat kereta api lewat, fiuh senangnya ngalah-ngalahin beli baju lebaran. Kami hanya bisa menikmati (tepatnya tersiksa) berada dalam bus hanya ketika ikut mengiring temanten. Itupun kalau calon istri/suami tetangga yang jadi nganten rumahnya jauh. Jadi bisa dipastikan, kami tak pernah naik bus/kereta. Dan itu juga bisa dipastikan bahwa kami tak pernah bepergian.

Berdua, dengan dandanan necis dan minyak wangi tak bau amis, kami berdiri di pinggir jalan. Bermaksud bepergian dangan uang saku pas-pasan. Sebuah bus besar berhenti tepat di depan kami. Pak kondektur dengan sigap menggandeng tangan kami dan memasukkan kami ke dalam kotak besi penuh kursi. Yah, dalam hitungan detik kami sudah duduk manis di kursi paling belakang bus Sumber Kencono.

Kami saling bertatap lalu tersenyum. Namun tiba-tiba saja rasa mual dan pusing gak ketulungan melandaku. Ya, hanya aku. Dia, temanku baik-baik saja. Mungkin ada yang salah dengan kursi yang aku duduki.

Dengan menahan mual dan pusing yang amat sangat, aku melihat Pak Kondektur datang menghampiri. “Karcisnya Dek! Turun mana?” tanya pak Kondektur. Dan untuk kedua kalinya, kami hanya menatap. Pikirku saat itu,”Duh aku gak punya karcis, bagaimana ini?”

Mata temanku juga tak nampak baik, terpancar kekhawatiran yang teramat sangat di sana. “Turun mana?” tanya Pak Kondektur lagi. “Terminal Maospati,” jawab kami.

“Lima ribu!” kata Pak Kondektur

“LIMA RIBU??” teriak kami bebarengan dan sontak mengalihkan pandangan para penumpang yang lain.

“Temenku saja yang sekolahnya di Maospati cuma bayar SERIBU?!” jawab temanku protes.

“Iya, kadang juga gak bayar! Gimana kalo TIGA RIBU saja?!” tambahku.

Entah kenapa, para penumpang yang lain nampak tertawa tertahan, ah bukan tertahan. Mereka ada yang tertawa terbahak sambil berkata,”Gak pernah naik Bus ya Dek? Ongkos bus kok ditawar?! ha ha ha “

*Pengalaman pertama bersama Sumber Kencono yang tak pernah terlupakan sepanjang sejarah perBUSan.

Tagged: ,

6 thoughts on “Ongkos Bus

  1. liliwangi 4 January 2011 at 11:09 AM Reply

    Mestinya Izzah pura-pura tidur, lebih afdol sampai terdengar ngoroknya, tak jamin bebas ongkos

    • Izzah 4 January 2011 at 11:14 AM Reply

      Hahhahahahaha malu ah, masa gadis manis2 tidurnya ngorok?

  2. denmasgundul 4 January 2011 at 11:02 AM Reply

    haruse naware pas munggah dudu pas meduk heheheh

    • Izzah 4 January 2011 at 11:13 AM Reply

      Mas Arkan yo?
      Kan pengalaman pertama😀

  3. rina 4 January 2011 at 10:54 AM Reply

    terminal Maospati itu deket rumah temenku lho hehehe

    • Izzah 4 January 2011 at 11:01 AM Reply

      oh ya, mana rumahnya? dulu SMAku di belakang terminal situ. SMAN 1 Maospati =>SMANTI

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: