Dear Diary # Calon Suami Bunda #

“Tidaaaaaaaakk…………………”
“Dengarkan dulu!!”
“Diam…..!!!! Aku tak ingin mendengarnya, cukup! Belum puaskah kalian menyakitiku, menyiksa setiap sudut batinku? Belum puaskah”
“Ini demi kebaikan kita, Nak!”
“Kebaikan?? Yah, kebaikan kalian bukan untuk kebaikanku!”
“Bukan, ini untuk kebaikan kita bersama!”
“Kalian semua jahat, untuk apa bunda melahirkanku jika hanya sepert ini yang aku dapatkan! Untuk apa, jika boleh memilih, aku tak akan pernah mau dilahirkan di dunia ini.” sambil menahan sakit di punggungku yang tak terasa jika dibandingkan sakitnya hatiku.

Pertengkaranku dengan Bunda, atau lebih tepatnya penolakanku atas kemauannya yang konyol. Bagaimana mungkin dengan jelas dan gamblang dia memintaku untuk menyetujui pernikahannya dengan pria lain, sedangkan dia belum bercerai dari ayahku.
Oh Tuhan, kirimkan saja padaku Malaikat mautmu, untuk menjemputku. Ku tak tahan lagi. Cukup! Cukup kurasakan pahit semua ini. Tak sedetikpun  aku mampu untuk tersenyum, tak sedikitpun. Aku muak Tuhan, aku muak melihat keluargaku yang tak lagi terlihat seperti keluarga. Yah, seperti di dalam penjara yang isinya adalah orang-orang pembunuh yang kejam.

Sepulang Bunda dari Malaysia, dia memboyong pria asing yang sama sekali belum ku kenal. Dihadapanku dan ayah, pria itu memperkenalkan diri sebagai calonnya.
Tidaaakkk!!!! Tuhan, kurasa Kau telah sambarkan petir tepat diubun-ubunku. Gemuruh yang tiada henti dan suara halilintar terasa terus menggema dalam dadaku. Hanya kegelapan yang aku rasakan, gelap dan tersayat. Seketika ayahku berdiri dan mendaratkan pukulan tepat dirahang pria itu. Dan tamparan yang terdengar sangat keras di pipi bundaku. Oh tidak, aku tak pernah membayangkan hal seperti ini sebelumnya.
Kau tahu? pria itu tak mengalah begitu saja, dia bangkit dan membalas pukulan itu yang sama kerasnya. Dan mereka bergulat dipelataran seperti tontonan wayang orang yang sedang beradu kesaktian. Tak seorangpun yang berinisiatif melerainya.

“Dia itu massiv istriku!!!” braak……….
“Tapi ku tak pernah membahagiakannya!! Kau hanya menyia-nyiakannya” bantah pria itu
“Aku tak pernah menyiakannya, tapi dia yang tak pernah mematuhi keinginanku!” Hah……
“Untuk apa mematuhi suami yang tak mempedulikan anak istri, tapi hanya bermain judi?” Prang….
“Diam, Kau!!!”
“Aku akan menikahi istrimu!! Kau tahu, dia akan bahagia jika bersamaku”
“Tak akan ku biarkan, karena aku tak akan menceraikannya!!”

Aku terduduk kaku di lutut bundaku, merintih dan menangis tanpa setetespun air mata yang mampu kutumpahkan. Ku coba berdiri, berlari menuju arena perkelahian mereka. Dan…… daap, pukulan salah seorang dewasa itu mendarat tepat di punggungku. Aku terjerambab dan entahlah…..gelap.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~o00o~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pikirku buntu, tak ada yang bisa kuajak bicara selain buku usangku itu. Jika aku punya sahabat, jika aku punya orang yang bisa berpendapat, jika dan jika……
Dan semua tak terselesaikan hanya dengan jika.

Semenjak kepergian bundaku ke Malaysia, aku tak berani berkawan. Bukan tak berani, namun aku takut dengan kecemburuan. Cemburu yang bisa membakar setiap nadiku jika ku melihat salah seorang temanku mendapat kecupan mesra dari ibunya, cemburu jika ibunya menyuruhnya segera makan ataupun menyuruh untuk bergegas mandi. Aku cemburu, aku iri dan aku menginginkan hal itu.

Aku lebih suka berkutat dengan buku dan mainanku, bermalas di depan TV, akau sekedar berbicara sendiri dengan bunga-bunga kamboja yang ditanam ayah disampng rumah. Ku bertanya pada mereka apakah bahagia pagi ini, dan hembusan angin yang menerpanya seakan jawaban darinya jika mereka sangat bahagia pagi ini.
“Boleh, aku merasakan sedikit bahagimu?”pintaku
Namun, tak ada jawaban, seakan mereka tak ingin membagi kebahagiaan mereka padaku, barang sedikit saja.

Banyak orang yang berkata jika Tuhan itu adil, tapi aku tak merasakannya!

Tagged: , , , , ,

2 thoughts on “Dear Diary # Calon Suami Bunda #

  1. MU2 16 April 2010 at 9:38 AM Reply

    kau rasakan atau tidak sifat keadilan Tuhan terhadapmu, tidak merubah sifat keagungan-Nya di hadapan seorang hamba.

  2. chimutluchu 5 April 2010 at 5:13 AM Reply

    nice story…
    kunjungi juga blog saya : http://chimutluchu.wordpress.com
    thx…

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: