Kenangan Cinta Untuk Adikku

“Mba, pulsaku abis neh!” kata diujung telephon sana

“Terus?”

“Hehehehehe…..”

“Apa lo, ketawa-ketawa!”

“10 ribu aja loh! ya…ya…!!”

“emoh!”

“Peliiiiiiittt………!!!”

tut………tut…….tut……..

Mati deh telponnya!

tuit…..tuit…..Drrttt……..drtttt…….

“Makasih ya Mbakku yang cantik, muach…muach…muach….”

Ku balas,”Tadi ngata-ngatain pelit, sekarang muji-muji!”

“heheheheeh…..sing penting pulsaku wes di isi!”

Mana mungkin aku tega menolak rengekan adekku yang paling jahil itu. Maskipun aku sering sekali dibilang cereweeeeeeeeet sama dia, tapi dia tetep saja adekku satu-satunya yang paling ganteng.

Teringat duluuuu sekali waktu aku masih di Sekolah Dasar, tepatnya saat kelas 4 SD. Aku sekolah sembari momong dia, yah waktu itu umurnya masih 3 tahunlah. Yah, aku sekolah sembari momong, bisa ngebayanginkan? aku duduk dibangku paling depan, tepat di depan meja guru. Dan dia, duduk dibangku sebelahku. Entahlah apa pertimbangan guru-guru SDku sewaktu itu. Mereka tidak melarang juga tidak terganggu dengan keberadaan adekku. Yah mungkin karena adekku tidak terlalu rewal apalagi nangis. Bahkan adekku sering dikasi permen sama Pak Lugito, wali kelasku yang aku sayangi. Yang selalu berpesan, “kamu boleh bawa aekmu kesekolah, tapi jangan sampai prestasimu menurun ya!”

Pernah suatu ketika, tak ada seorang temanpun yang mau bermain bersamaku. Saat aku coba bergabung bersama mereka, mereka semua pergi, meninggalkan aku bersama adekku dalam diam. Entahlah aku tak tahu salahku, dan belakangan aku tau kalau merka tak mau berteman dengan anak yang ke sekolah bawa momongan.

Para pembaca pasti bertanya tanya, lho kok sekolah bawa adek? memang ibuknya kemana? Ya…ya…ya… orang tuaku berkutat dilahan yang panas demi seribu duaribu uang, demi sakuku ke sekolah, demi bayar sppku, demi beliin baju baruku juga adek. Yah, mereka kerja, dan adekku tak mau dititipkan bersama iyung (nenekku dari pihak ibu) ato embah (nenek dari pihak ayah). Adek hanya mau ditinggal kerja kalau bersamaku. Aku juga tidak tahu, padahal aku bukanlah sosok kakak yang baik. Aku sering memerahinya, sering juga membuatnya berdarah-darah (bukan karena aku tonjokin loh, tapi sering kali jatuh kalau aku ajak main), bahkan aku memarahinnya sampai dia nangis tak mengeluarkan air mata dan aku ikut menangis hanya karena uang Rp.500,- Uang saku yang diberikan ibuku waktu hari minggu. Dan kau tau kawan? ternyata uang itu jatuh dibawah kursi. Dan akulah yang menjatuhkannya. Sangat menyesal aku rasanya telah memarahinya, bahkan sampai sekarang kalau aku ingat.

Yang paling membuatku haru adalah saat ibuku memberinya sebuah manggis. Adekku tahu kalau kakaknya sangat menyukai buah manggis, makanya dia bilang “Buk, manggisnya jangan dipecah ya, nanti saja nunggu Mba pulang sekolah, terus dimakan berdua sama Mba!”

Dan sampai sekarangpun, kalau dia punya sesuatu pasti menyisakan untukku, setidaknya menawariku, apakah aku mau. Ouw……. kadang aku kangeen sekali kau bilang cerewet, bergulat denganmu gara-gara selalu memonopoli stasiun televisi, tanpa memberiku kesempatan untuk ikut menikmatinya juga. Dan, membuat ayah diam kemudian berdiri mengambil palu sambil berkata, “kalau masih berantem juga, kupalu nantii TVnya”. Saat itu juga kami langsung diam, dan biasanya aku yang lari kekamar dan menangis sepuasnya. Dan kau? tersenyum lebar didapan TV sambil sesekali mengintipku ke kamar dan berkata, “weekkss……!!” sambil menjulirkan lidah baumu itu.

Tak terasa saat ini umurmu manginjak 15 tahun sayang, kau sudah remaja sekarang. Bahkan kata ibu dalam telponnya kemaren, kau sudah punya pacar, 3 orang lagi! Yah, munkin mereka kesengsem sama senyummu yang culun itu.

Tapi pesanku untukmu, cinta! jangan kau permainkan perasaan gadis-gadis itu! Bertambah umurmu, tingkatkan keimananmu, tebarkan senyummu, dan berhenti merengek minta pulsa, bentar lagi kau ujian sayang! Fokuslah sama sekolahmu dulu. Biarkan kakakmu ini yang menemukan jodohnya dulu, jadi jangan asal nyalip aja ya!

Selamat Ulang Tahun, Adekku! i Love U!

Tagged: , ,

3 thoughts on “Kenangan Cinta Untuk Adikku

  1. blackgerry indonesia 30 March 2010 at 6:06 AM Reply

    aku baru baca loh … jadi intinya takut keduluan si bocah yah wkwkwkw ..

  2. wijaya kusumah 13 March 2010 at 1:50 AM Reply

    sebuah tulisan untuk adik tersayang dari kaka tercinta, Omjay salut sama izzah

    salam
    Omjay

    • fawaizzah 14 March 2010 at 1:26 AM Reply

      Waaah ada Om Jay, makasih Om Jay sudah berkenan mampir ke lapak Izzah!🙂
      salam baktiku untuk Om Jay!🙂

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: