Menguak Kisah Cinta Ibuku

Suatu sore dalam perjalanan ke rumah Mbah Kung,

“Nduk nanti kalau berpapasan sama orang didepan itu di bel yah!” perintah Ibuku sambil berbisik. Tiiin……..!!! bunyi klakson sepeda motor bututku. Lalu seulas senyum meluncur dari bibir orang itu.
“Dia siapa Buk? kok aku belum pernah lihat!” tanyaku.
“Oh, dia mantan pacar Ibu sewaktu masih muda!” jawabnya sambil malu-malu.
“Jiaaaaaaaaahhh………….ngaya neh, pake bahasa mantan pacar!” sautku sambil cekikian.
“Gini-gini dulu pacarku banyak yo!!!” celetuknya.
“Wuuiiiihhh……….kalah donk diriku, secara lebih manis getu loh!” maklum baru mengenal pacar kelas 2 SMA. Aweeet sampe 3 tahun, gak pernah ada masalah.
“Salah sendiri!”
“Loh kok salah sendiri!”
“Niru Bapakmu!” huahahahahahaha……kami tertawa bersama.
“Dulu itu yo, pacar Ibukmu ini ada 3 ekor eh 3 buah ups salah 3 orang ding!”
“Pacar kok baanyak amet, emang buat apaan??”
“Yang salah ya mereka! ngapain juga suka sama Ibukmu ini.”
“Memangnya dulu pacarannya kaya gimana Buk?” tanyaku penasaran.
“Ya, paling juga saling berkirim surat saja, gak pernah dolan-dolan bareng kaya kamu itu.”
“Terus-terus selain itu?” tanyaku makin penasaran.
“Kalau pagi-pagi Ibu disuruh Iyung ke pasar, pasti pacar yang kebetulan masih tetangga mengikuti, itu aja rasanya wes gak karu-karuan, deg-degan”
“hahahahahahahaha……..!” tawa kami bersamaan.
“Terus kalau Bapak pacar ke berapa?” tanyaku iseng.
“Kalau sama Bapakmu itu, aku gak pacaran.”
“Loh kok???” tanyaku bingung.
“Jadi ceritanya begini, dulu itu Ibukmu ini mau dijodohkan sama Pak @#$%%^& (aku lupa namanya) dia anak orang kaya, juga sudah punya pekerjaan yang mapan. Tapi Ibukmu ini gak suka sama dia, kata temanku dia itu pacarnya banyak.”
“Loh…loh…….Ibukkan pacarnya juga banyak!” aku protes.
“Tapi yo beda ya! pokoke ibuk gak seneng sama orang itu.”
“Takut saingan punya pacar banyak yah?” ledekku.
“hahahahahhaha…….”
“Terus-terus?” tanyaku tak sabar.
“Mbah Kung itu dulu orang terpandang di desa, banyak horang naruh hormat padanya. Pokoknya banyak yang nunduk-nunduk kalau jalan didepan Mbah Kung. Makanya Mbah Kung selalu main perintah, termasuk sama anak-anaknya. Semua anak-anaknya dijodohkan, pokoknya sing penting sugeh! Lah pada waktu Ibumu yang mau dijodohkan, Ibuk kabur dari rumah, pergi ke Surabaya pamitnya mau kerja.”
“Kabur kok pamit?”
“Diem! Pas wes nyampe Surabaya, Pak Lek No (adek Ibuku) sakit parah dan dibawa ke rumah sakit. Kalau tidur suka ngelindur manggilin Ibuk. Terus Ibuk dapat kiriman surat dari Mbah Kung, kalau gak jadi dijodohin asalkan mau pulang. Ya sudah Ibuk pulang mau pulang.”
“Terus ketemunya sama Bapak?”
“Waktu itukan Iyungmu masih punya warung, ibu yang sering disuruh bantuin jaga. Kebetulan Bapakmu sering mampir di warung itu. Terus Ibuk sama Bapak kenalan, eh Bapakmu langsung ngelamar.”
“Waaaaahhh………Bapakku kerren ternyata! Gak takut sama Mbah Kung yang galak?”
“Awalnya Mbah Kungmu tidak setuju, ya karena Bapakmu bukan orang berduit.”
“Terus?”
“Ya karena kegigihan Bapakmu, akhirnya disetujui juga sama Mbah Kung lan Iyungmu!”
“Alhamdulillah……”
“Tau gak Nduk! Pak @#$%%^& yang mau dijodohkan sama Ibuk itu, sampai saat ini sudah kawin cerai sampai 3x.”
“Busyet dah!! kok gitu?”
“Karena dia suka mukul istrinya, sekarang kasian anak-anaknya pada terlantar. Ibu jadi bersyukur punya suami kaya Bapakmu itu, Meskipun kita hidup pas-pasan tapi kita bahagia, wes ngono sekarang Bapakmu jadi mantu kesayangan Mbah Kungmu.” katanya sambil tersenyum.

~~~~~~~~~~~~~~oo0oo~~~~~~~~~~~~~~~

Aku dan Ibuku memang lebih terlihat seperti seorang sahabat. Kita sering berbagi hal-hal kecil maupun hal-hal yang sangat serius. Bahkan Ibuku juga mengenal baik teman-teman baikku, makanya banyak temanku yang betah dirumahku. Cerita tentang persahabatan, cinta kasih, dan apapun aku curahkan padanya. Begitu pula sebaliknya.

Sewaktu pertama kali aku mengenalnya, aku bercerita, sewaktu dia mengatakan cinta, aku berkisah. Saat kami mengalami masa-masa indah dan bahagia, aku berbagi dengan Ibuku. Dan saat sedih, dia yang akan melakukan banyak cara untuk mengusir sedihku. Dialah Ibuku, sosok yang aku kagumi.

Dan saat mengetahui, hubungan cinta anaknya kandas karena keegoisan orang tua dari seseorang yang hampir menjadi mantunya, Ibuku berkata,“gak usah sedih ya nduk, kalau jodoh gak akan kemana! ingatlah hanya orang yang baik yang akan mendapatkanmu. Kamu orang baik gak? kan hanya orang baik yang berpasangan dengan orang baik.”

Kata-katanya tak akan aku lupakan.
Bersama untaian batuk yang tak kunjung reda, kutulis kisah ini.

3 thoughts on “Menguak Kisah Cinta Ibuku

  1. tumblr.com 9 September 2014 at 4:19 AM Reply

    Hello my friend! I wish to say that this post is amazing, nice written and include almost all vital infos.
    I’d like to see extra posts like this .

  2. sakitjiwaku 3 February 2010 at 8:55 AM Reply

    Ahh…….. senengnya bisa baca kisahmu.

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: