Ibu

Aku tidaklah dilahirkan dari sebuah keluarga yang berada, namun dilahirkan dari sebuah keluarga kecil bukan berarti tidak bisa bahagia, sungguh aku sangat bersyukur bisa dilahirkan dari rahim ibuku. Seorang ibu yang sangat hebat.

Dialah ibuku seorang wanita tegar, dengan tangan dan kasih sayangnyalah aku bisa tumbuh dewasa. Tak pernah berhenti dia menengadahkan tangan kepada Rabbnya untuk diberikan kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan dalam membesarkan anak-anaknya. Suaminya bukanlah seorang pegawai negeri ataupun pegawai kantoran yang tiap bulannya mendapatkan gaji. Yah….. suaminya itu adalah ayahku. Meskipun demikian dia tak pernah mengeluh, tak pernah pula dia menuntut segala sesuatu yang diluar jangkauan ayahku. Bahkan diapun ikut mencari nafkah untuk segala kebutuhan kelurga.

Dia juga bisa diandalkan dalam hal apapun. Sungguh masakannya sangat enak, tak jarang dia diminta untuk memasak saat tetanggaku punya hajatan. Dan uang pesangonnyapun rumayanlah bisa buat uang saku anaknya ke sekolah.

Suatu ketika, saat aku pertama kali menginjakkan kakiku di kota Surabaya untuk mencari kerja dan untuk pertama kalinya pula aku jauh dari bundaku. Masih bingung karena pengalaman pertama, kesana kemari mengumpulkan surat lamaran kerja namun sudah berhari-hari tak kunjung ada panggilan. Saat itu aku sedang sholat Ashar, HPku berdering tanda ada sms yang masuk. Karena disitu ada temenku maka dibukalah sms itu olehnya.

Sms itu bertuliskan “nduk piye kabarmu, wes maem opo durung? terus wes oleh panggilan kerjo?”

Seusai salam temanku bilang ada sms, dia meminta izin menjawab sms itu karena aku belum selesai dzikir. Aku bilang iya, setelah selesai aku mengambil HPku dan melihat sms dari ibuku, tak lupa juga aku melihat sent itemnya. Alangkah terkejutnya aku waktu itu, sent item itu beruliskan “aku nang kene jek mbambung, nyapo?” Ingin sekali aku memarahi temanku, tapi meskipun aku marah2 toh sms itu sudah terkirim, dan mungkin sudah dibaca oleh ibuku. Aku sangat takut jika itu bisa menyakitinya.

Dan ternyata benar, ibuku menangis ketika membaca sms itu. Dan keesokannya saat aq mencoba menelepon, tak diangkat oleh ibuku tak tahu dia masih marah ataukah beliau sedang memasak sehingga tidak mendengar bunyi telpon.

Dadaku terasa sesak karena menyesal dan takut, menyesal dan takut jika aku sudah benar-benar menyakiti hatinya. Dan saat aku mencoba menghubunginya kembali ternyata ada jawaban  dengan nada serak beliau memintaku untuk pulang saja kalau memang belum ada panggilan kerja, tapi aku bilang kalau aku ingin menunggu hingga seminggu lagi. Temenku datang dan meminta untuk bicara dengan ibuku dia ingin minta maaf. Dan aku berikan padanya, ibuku bilang sama temanku katanya dia sangat kaget membaca balasan sms itu, karena dia merasa anaknya tak pernah berbicara kasar terhadapnya.

Oh Ibu…… maafkan aku yang telah membuatmu menangis. Dengan peluhmu kau besarkan aku dengan cinta dan kasih sayangmu kau mendidik aku dengan kesabaranmu kau merawatku. Tapi apa yang sudah aku berikan padamu?? Sampai detik ini aku masih tidak tahu bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu.

Ingin sekali aku bisa membahagiakanmu, menuruti segala inginmu seperti saat kau menuruti segala permintaanku. Meskipun tidak saat itu juga kau penuhi, namun kau selalu berusaha untuk memenuhinya.

Ibuku memang bukanlah wanita yang sempurna, namun dia adalah wanita terhebat yang pernah kutemui. Tak akan pernah aku melupakan nasihatmu.

“Jangan selalu melihat ke atas, lihatlah kebawah biar kita selalu bisa bersyukur terhadap apa yang Allah berikan kepada kita, namun untuk sesekali lihatlah ke atas sebagai motivasi untuk mengejar mimpi”

“Ibu bukanlah orang yang sempurna, kau memang anakku kau adalah keturunanku tapi contoh dan tirulah hal-hal yang baik saja dari ibumu, dan kalau ada yang tidak sesuai dan tidak pas maka jangan diikuti”

Dapatkah aku menjadi sepertimu jika aku sudah menikah dan punya anak nanti ibu?

Aku merindukan pelukan hangatmu, kecupan cintamu,belaian sayangmu, lezatnya masakanmu.

I Miss U Mom, I Love U Full….

Tagged:

2 thoughts on “Ibu

  1. sakitjiwaku 3 February 2010 at 7:50 AM Reply

    Tulisanmu menggugah hatiku menjerit rasanya hati ini membaca tulisanmu. aku pengen menumbuhkan rasa cinta di hati buat ibuku tapi terkadang aku masih sangat sulit melakukannya. sangat sulit bahkan aku pernah jauh-jauh dari batam terus pulang ke sulawesi hanya bertemu selama 8 jam saya datang malam dan pulang pagi. setelah itu saya lebih seneng ngumpul bareng temen-temen
    aq tak tahu kenapa hati ini begitu beku ???

    • fawaizzah 4 February 2010 at 5:16 AM Reply

      Maaf ya kawan, aku baru onlen!
      Ibu, jangan pernah lupakan Ibu!
      Ibu, tatap matamu teduh
      Ibu, kasih sayangmu tak pernah runtuh
      Ibu, maafkan aku yang selalu mengeluh
      Ibu, tubuhmu selalu penuh peluh
      hanya untuk membuatku takberpeluh

      Ibu oh Ibu!
      I love u ibu!

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: