Sesalku

Ini adalah Sebuah pengalamanku ketika aku pulang ke Magetan dari kota Surabaya tempatku bekerja,

Ketika aku turun dari sebuah bus antar kota, clingak clinguk mencari-cari kakak, bapak, atau siapapun yang hendak menjemputku, namun tak satupun yang dapat aku temukan. Dan akhirnya akupun mencari tempat duduk untuk menunggu jemputan. Disitu ada sebuah kursi panjang dibawah pohon talok/keres/kersen, akhirnya aku duduk dikursi itu dan disebelahku ada seorang nenek-nenek yang sudah tua.

Beliau bertanya padaku dengan bahasa jawa alus,”griyanipun ten pundi nak?”(rumahmu mana nak?)

“griya kula desa Jajar mbahe!”,(rumahku desa jajar nek!)

“Punopo celak kaleh Kartoharjo?”(apa deket sma kartoharjo?)

“injih mbahe celak, Lha Mbahe niki saking pundi punopo badhe tindak pundi?”(iya nek deket, lha nenek darimana tau mau kemana?)

“Kulo niki tiyang njaluk2 nak, wau saking Kajang terus mriki niku mlampah, sakniki badhe ten nganjuk ngentosi angkot,” (saya ini orang minta-minta nak, tadi habis dari Kajang trs kesini jalan kaki, sekarang mau ke Nganjuk nunggu angkot.”

“lha griyane mbahe pundi?” (lha nenek rumahnya mana?)

“Malang nak.”

“Oh mbahe mantun saking Nganjuk terus wangsul ten Malang?” (Oh nenek habis dari Nganjuk mau pulang ke Malang?)

“Mboten nak, mbahe ten Malang empun mboten gadah griya, nggeh boten gadah putro”. (tidak nak, nenek di Malang sudah tidak punya Rumah, juga tidak punya anak,)

“Lha mbahe sare ten pundi?” (lha nenek tidur dimana?)

“Mboten mesti nak, kadang nggeh ten ngarep warung pinggire alas Caruban, nak mboten ngaten nggeh ten Terminal Nganjuk, mangke lak teseh nutut waktune nggeh tilem teng Stasiun”. (tidak pasti nak, kadang ya di depan warung pinggir hutan Caruban, klo gak gitu ya di Teminal Nganjuk, nanti klo masih ada cukup waktu ya tidur di stasiun,)

“lha mbahe kakung ten pundi?’ (lha kakek ten pundi?)

“Empun sedo tahun 1985”. (sudah meninggal tahun 1985,)

Sungguh begitu tersa sesak dadaku, ada seorang nenek yang sudah tua yang sudah tidak punya siapa2, mengandalkan uluran tangan orang lain untuk kelangsungan hidupnya,.

Disaat aku terdiam, ruwet dengan pikiranku sendiri, nenek itu bangkit dan memunguti buah keres yang jatuh di tanah.Ingin rasanya aku memenjat pohon itu dan memetikkan banyak buah keres untuknya.

Tapi kenapa aku merasa malu untuk melakukannya?? sungguh aku membenci diriku sendiri saat itu, aku sungguh merasa kasian tapi aku juga tidak mampu melakukan apa2,.

Dan tak lama kemudian ada sebuah angkot berwarna coklat muda dari arah Madiun, aku segera merogoh sakuku ada beberapa lembar uang seribuan disitu, segera kuberikan padanya. Dia segera pergi dan sebelum beranjak dia memelukku dan berkata terima kasih nak,.

Dan rasa sesal melandaku saat itu, untuk jajan aja aku bisa menghabiskan banyak uang tapi untuk menolong orang kenapa aku tak bisa memberinya lebih banyak,.

Dan sampai saat ini aku masih memikirkan nenek itu, dimana dia sekarang, sedang apa gerangan???

Tagged: , , ,

2 thoughts on “Sesalku

  1. nur 4 January 2010 at 4:23 PM Reply

    maa sya allloh betapa mulia gadis shoolikhat..ini

    • fawaizzah 7 January 2010 at 3:15 AM Reply

      saya masih perlu banyak belajar…

Tinggalkan Jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hadisome

Tentang Apa Saja dan Siapa Saja

Najlazka

“Life isn't about waiting for the storm to pass...It's about learning to dance in the rain.” ― Vivian Greene

RetakanKata

Mempertahankan Kata-kata Agar Tetap Bermakna

Hidupnya Indra

Catatan Hidup Seorang Indra Nugroho

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

Naungan Islami

Indahnya Hidup Dalam Naungan Islam

%d bloggers like this: